Abrasi Ancam Hilangnya Situs Sejarah Kesultanan Asahan

oleh
oleh
Salah seorang warga saat mengamati kondisi makam tua yang dipercaya sebagai makam Sultan Asahan Abdul Jalil Rahmadsyah (F/AS.dok)

Asahan – Akibat penebangan hutan didaerah hulu sungai Asahan maka mengakibatkan tejadinya abrasi yang pada akhirnya mengancam hilangnya situs sejarah Asahan yang berdiri pada abad ke XVI dengan dipimpin oleh Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah yang merupakan keturunan dari sultan Aceh, Alaidin Mahkota Alam Johan Berdaulat ( Sultan Alaidin Riayat Syah ” Al Qohhar ) yang memerintah pada tahun 1537 – 1568 abad ke XIII.

Pantauan Asahansatu.com, Jumat (1/12) saat mengunjungi makam tua di pinggiran sungai Asahan di desa Pulau Raja Pekan persisnya di belakang Mesjid Lama, ” dipercaya sebagian masyarakat Asahan sebagai makam sultan pertama Asahan yang bernama Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah yang diperkirakan mangkat sekitar tahun 1630 “.

Selain makam tua yang diyakini sebagai makam sultan Asahan pertama sekitar 30 meter juga terdapat makam Putri Siti Ungu ( Siti Unai ) yang mangkat pada tahun 1660 yang sesuai tulisan yang terdapat pada batu nisan yang telah dipugar oleh Istri Walikota Tanjung Balai Sutrisno Hadi pada tahun 2001.

Kondisi sekitar makam sangat semak oleh rerumputan liar yang tampak tidak pernah dibersihkan, keretakan juga terdapat pada dinding makam tersebut, makam yang diyakini sebagi makam sultan pertama Asahan juga bakal hilang akibat ancaman abrasi yang terjadi di sungai Asahan.

Jarak makam dengan bibir sungai begitu dekat, hanya sekitar 3 meter, cetus AB. Siagian ( 74 ) salah satu warga yang tinggal sekitar 100 meter dari lokasi makam. ” mungkin akibat terjangan arus deras sungai Asahan yang mengakibatkan abrasi sehingga menyebabkan dinding makam tersebut retak – retak “.

Cerita yang sebenarnya tentang makam tua tersebut tidak dapat saya ceritakan secra gamblang sebab saya tidak memiliki cukup bukti  untuk menceritakannya, ” bukti maupun catatan resmi mengenai sejarah Asahan tersebut ” ungkap Siagian.

Namun sangat disayangkan, baik keturunan sultan itu sendiri maupun pemerintah Asahan tidak merawatnya. Situs itu merupakan aset yang sangat tidak ternilai harganya sebab merupakan tonggak sejarah asal muasal Asahan, ” nah bila makam Sultan Asahan  itu dirawat sudah barang tentu bisa menjadi salah satu objek wisata dimana sungai Asahan merupakan salah satu ajang pelaksanaan olah raga arung jeram bertarap internasional.(Lintang)