Dalami Sejarah Asahan Tanjungbalai, Pelajar SMAN 1 Tanjungbalai Kunjungi Galeri GUKK

oleh -453 views

Asahan — Pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tanjungbalai berkunjung ke Galeri Uang Kuno Kisaran (GUKK) untuk menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah Asahan-Tanjungbalai, Minggu (24/2).

Siswa-siswa tersebut berkunjung dalam rangka untuk menambah wawasan dan sangat pentingnya nilai-nilai sejarah yang harus diketahui dalam dunia pendidikan.

Hermansyah Siregar SPd selaku guru sejarah di SMAN 1 Tanjungbalai mengatakan, tujuan ke GUKK ini untuk melihat barang-barang sejarah peninggalan Belanda dan menjlaskaan kepada murid bahwa Asahan-Tanjung tidak sampai 350 tahun dijajah Belanda, karena berdasarkan bukti autentik barang sejarah yang ada di GUKK.

“Kita menjelaskan kepada murid bahwa Asahan-Tanjungbalai tidak sampai 350 tahun dijajah,” ungkap Hermansyah.

Dirinya menilai masuknya Belanda di Asahan-Tanjungbalai diperkirakan pada tahun 1865 dan itu berdasarkan barang-barang autentik sejarah peninggalan Belanda yang di GUKK. “Kita hitung saja dari tahun 1865 samapi 1942, tidak sampai 100 tahun Belanda menjajah Asahan-Tanjungbalai,” jelasanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kalau kita cek barang-barang peninggalan Belanda yang ada di GUKK ini bisa dipastikan bahwa benda ini di atas tahun 1800 bukan di bawah tahun 1800.

“Jadi saya mau mencoba membuktikan bahwa Asahan dan Tanjungbalai tidak sampai 350 tahun dijajah,” ujarnya sembari menyebutkan tidak ada alasan bagi generasi muda sulit untuk maju karena sudah lama terjajah.

Pemilik GUKK, Isro Hudawi Pratama sangat senang kalau GUKK-nya dikunjungi para pelajar. Tujuan dirinya untuk mendirikan GUKK ini untuk menjadikan edukasi pendidikan tentang sejarah khususnya Asahan-Tan­jungbalai. “Sejarah jangan pernah dilupakan, karena sejarah yang mengingatkan kita berapa pentingnya kejadian massa lampau,” ujarnya.

Sejak duduk dibangku SMP Isro sudah bergelut dengan barang-barang kuno dan bersejarah sehingga dirinya termotivasi menjadi kolektor barang kuno serta bercita-cita mendirikan rumah museum. “Sekarang rumah mu­seum yang didirikannya sudah mulai rampung,” ujarnya.

Pantauan awak media, ribuan barang-barang kuno terpajang di GUKK mulai dari botol yang berusia ratusan tahun, sepeda zaman Belanda yang digunakan untuk mengakat getah karet, uang koin Asahan yang bertuliskan Hessa yang sekarang sudah menjadi Desa Hessa Perlompongan dan uang kertas pada zaman Belanda.(**)