Dampak Eksploitasi Alam Proyek PLTA Asahan III Diduga Penyebab Banjir di Desa Tangga

oleh -222 views

Asahansatu || Banjir di Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Hari Jum’at (14/5) tepatnya Lebaran Ke – 2 Kemarin. Banjir yang melanda pemukiman masyarakat Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan pada Lebaran ke-2, Jum’at (14/5) kemarin diduga erat kaitannya merupakan dampak kesalahan eksploitasi alam pegunungan dalam proses konstruksi proyek strategis nasional Pembangkit listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan 3 (tiga).

Owner BUMN PT. PLN (Persero) dengan kontraktor PT. Shimizhu – Adhi Karya Joint Operation (SAJO) harus ikut bertanggungjawab atas banjir tersebut, hal itu seperti yang dikatakan Tokoh Masyarakat Desa Tangga, Power Siagian kepada media senin (17/5) di Desa Tangga kemarin.

Masih menurut Power Siagian, sa’at ini proses konstruksi PLTA Asahan 3 sedang berlangsung di Area dua kabupaten yaitu Kabupaten Asahan dan Kabupaten Toba Samosir mengunakan sistem ” run of river ” yang maksudnya mengalirkan air dari sungai Asahan menuju ke Turbin Air melalui terowongan yang sedang dibangun sepanjang 8 Km.

Pembangunan terowongan tersebut tepat diatas pemukiman warga Dusun I, Desa Tangga dan merupakan lokasi Konstruksi Tunel / pembuatan terowongan dalam lingkup Work Area (WA) 1, sehingga masyarakat merasa ketakutan ketika turun hujan.

Banyaknya material galian berupa batu dan tanah hanyut tergerus air dan menerpa kawasan pemukiman warga sa’at banjir di hari Lebaran kemarin. Rumah ibadah, Fasilitas kesehatan Puskesdes dan Kantor Kepala Desa Tangga serta semua halaman rumah warga di penuhi bebatuan dan lumpur.

Volume air memang tidak sampai merendam rumah penduduk namun arus air yang begitu deras cukup membuat warga panik. Pasalnya masyarakat takut jika terjadi longsor perbukitan (banjir bandang), apalagi sebagian masyarakat bermukim di sepanjang Pinggiran Sungai.

Tokoh masyarakat Desa Tangga lainnya, Chairuddin Panjaitan menimpali kekhawatiran Power dengan mengatakan bahwa pernah juga banjir menghantam kawasan pertanian sawah warga, sekitar dua bulan lalu, kenangnya.

Di lokasi WA 1 ( Intake Area – sebelah timur air terjun ponot) sa’at itu terjadi kerusakan pada usaha pertanian warga. Sebelum dimulainya proses konstruksi PLTA Asahan III peristiwa begini tidak pernah terjadi, ketusnya.

Terpisah, aktivis pegiat lingkungan organisasi Asahan Programmer dan mantan Anggota Tim konsultan perencanaan dan konstruksi di Pemkab. Asahan, Ir. Muhammad Kadri, senin (24/5) pagi sa’at dimintai pendapatnya terkait peristiwa banjir tersebut, kepada KabarMania.com ia menuturkan rasa kecewanya.

Kami sangat kecewa dengan terjadinya peristiwa banjir yang menerpa hunian pemukiman warga Desa Tangga pada H+2 lebaran lalu, dimana lokasi pemukiman tersebut merupakan bagian kesatuan Area dari sistem konstruksi PLTA Asahan III, kata Kadri.

Selevel Konsultan Konstruksi Nippon Koe bersama Main Kontraktor Shimizhu – Adhi Karya Joint Operation (SAJO), dinilai tidak melakukan giat konstruksi yang bersifat aman dan ramah lingkungan serta melindungi kelangsungan kehidupan, bagaimana ini?

Kadri mengingatkan bahwa pelaksanaan pembangunan PLTA Asahan 3 sejak 2019-2021 menyisakan masalah kerusakan jalan provinsi Pulau Rakyat – Sigura-gura, longsor, serapan konstruksi protection wall yang dinilai gagal konstruksi tidak memiliki Andalalin (dokumen analisis dampak lalu lintas), rusaknya ekosistem dan geologi sepadan Sungai Asahan yang kini berdampak banjir di Desa Tangga.

Manajemen pelaksana konstruksi SAJO & Co kerap berbenturan dengan kepentingan masyarakat lokal, manajemen PT PLN Asahan 3 yang dinilai tidak kooperatif dengan dampak sosial, ekonomi lokal yang tidak tersepakati (carut-marut) pekerjaan pembangunan PLTA Asahan III.

Masalah ini telah disampaikan pada management owner PT. PLN, materinya merupakan hasil evaluasi serta kajian lembaga Asahan Programmer dan Masyarakat Peduli Ekosistem Rimba Asahan.

Menitikberatkan pada sosioantropologi melihat fakta semakin tingginya kerusakan sarana lalu lintas Sigura-gura – Porsea, kerusakan geotek alam tebing-tebing, tingginya sedimentasi talud Sungai Asahan sejak 2020 – 2021, rendahnya Septy System atas pekerjaan konstruksi pada kawasan strategi, rendah kepedulian manajemen PT. PLN Asahan 3 dalam menyikapi dampak sosial dan ekonomi masyarakat atas sistem ketenagakerjaan (menpower).

Kini persoalan ekonomi dan sosial masyarakat setempat terus memuncak. Kerusakan kawasan, banjir, jalan sempit dan rusak dan drainase kecil tak mampu menampung debit air di wilayah Desa Tangga menjadi keseharian yang mengkhawatirkan. Sistem kontruksi protection wall yang labil ini kah yang disebut proyek strategis nasional tentu jauh dari makna gebyar kampanye PLTA Asahan 3 yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tegas Kadri.

Pihak owner Maneger PT. PLN PLTA Asahan III, Agil Dermawan, melalui Staf K3 (Keselamatan, Kesehatan,Kerja), Frans Siahaan, senin (24/5) sekira pukul 14.55 wib sa’at dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp mengatakan kepada wartawan bahwa persoalan banjir tersebut pihaknya telah melakukan rapat pertemuan dengan warga masyarakat terdampak.

Ini sudah kami bahas pak hari Kamis (20/5) lalu bersama Kadus I Desa Tangga, Pak Bilson Panjaitan dan Perwakilan Desa Tangga, Pak Chaeruddin Panjaitan, Pak Freddy Panjaitan, jelasnya.

Ketika ditanya tentang bentuk pengendalian dan antisipasi kedepan?, Hingga berita ini disiarkan, belum ada jawaban.(MHS)

No More Posts Available.

No more pages to load.