Diterpa Corona, Nilai Tukar Rupiah Makin Merosot

oleh -676 views

Sejarah kelam Rupiah terus merosot terulang kembali dan bahkan lebih parah. Hal ini dapat diketahui US$1 setara dengan Rp 14.150 pada masa krisis moneter pada juli 1998 lalu. Mengejutkan dini hari pukul 03.24 Rupiah Tembus Rp.16.004,50 per US$1. Ini menunjukkan Indonesia mengalami keterpurukan drastis ekonomi paling merosot, Indonesia memang saat ini belum mampu menunjukkan taringnya sebagai Perekonomiannya, dilihat sebelum effect corona 3 bulan sebelumnya pertumbuhan perekonomian menunjukkan grafik dari hanya 3-4 % saja.

Dilihat dari effect pandemi global corona di Indonesia membuat Indonesia terus tak mampu berbuat banyak dalam memperbaiki ekonomi saat ini.

Sunarji Harahap MM, Dosen FEB dan Pengamat Ekonomi berharap, pemerintah Indonesia harus dapat menormalisasikan keadaan ekonomi kita saat ini, ini bisa berimbas pada kepemimpinan Jokowi yang memberikan penilaian yang tidak baik.

“Ini Effect dampak juga dari strategi dari AS yang mencabut Indonesia sebagai negara berkembang menjadi negara maju, sehingga Indonesia semakin terpuruk. Perang Ekonomi dan Perang Wabah Corona ini menjadikan PR Indonesia yang harus di selesaikan, agar mengambil kebijakan yang sangat strategis,”ujar Sunarji Harahap.

Selain itu terdapat juga beberapa penyebab krisis moneter pada suatu negara, di antaranya, Kesenjangan produktifitas akibat lemahnya alokasi aset ataupun faktor produksi. Tidak seimbangnya struktur di dalam sektor produksi. Kepercayaan masyarakat untuk menginvestasikan modal nya ke Indonesia, dan seiring gejolak corona tentunya invest mengalami penurunan, dan ditambah utang pemerintah yg saat ini stok utang luar negeri yang besar sehingga kondisi ekonomi tidak stabil. Hal ini terjadi karena para menteri di bidang ekonomi maupun perbankan merasa terlalu percaya diri dengan syarat utang swasta.

Adanya kelemahan sistem perbankan di suatu negara dan belum efektifnya pemerintah untuk menggenjot pembangunan ekonomi Indonesia dari sisi utang luar negeri tersebut dan memaksimalkan segala potensi yang dimiliki negara. Serta adanya Harga Minyak Dunia yang mengalami kenaikan.(AS2)