“PERANGKAP PUJIAN”

oleh -1.791 views

Asahansatu — Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur.

Dalam islam, Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.

Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, Yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Luqman [31] : 12)

Yang Maha Terpuji hanyalah Allah Swt. Jika ada manusia yang kaya raya, jabatannya tinggi, sangat populer di kalangan manusia, maka sesungguhnya semua itu tidak akan terjadi kecuali atas izin Allah Swt. Orang kaya itu hanya ngaku-ngaku sebentar saja. Sebanyak apapun makanan yang tersaji di meja makannya, tetap saja jatahnya dialas oleh Allah Swt.

Jika kita sudah memasuki wilayah menikmati pujian maka sesungguhnya itu adalah sumber penyakit. Adalah kebohongan jika kita mengucapkan Alhamdulillaahi Robbil aalamiin, segala puji hanya bagi Allah, tetapi di dalam hatinya ia merasa pantas untuk dipuji.

Ini adalah hal yang penting, mengapa kita merasa jauh dengan Allah, padahal Allah Maha Dekat. Mengapa hati kita seperti tidak yakin akan keberadaan Allah, padahal sangat meyakinkan bahwa Allah ada. Mengapa? Salah satu penyebab yang berbahaya adalah karena kita terpenjara oleh pujian orang terhadap kita.

Kalau kita sampai menikmati pujian orang, merasa kita memang pantas dipuji, merasa pujian itu cocok dengan kita, sampai kita tidak mau jujur melihat diri kita yang sebenarnya, maka kita sudah masuk pada perangkap pujian.

Ketika kita sudah masuk perangkap pujian, maka naiklah hijab/penghalang di hati kita, naiklah ujub merasa diri hebat, sehingga terhalanglah hati kita dari nasehat. Jika sudah demikian akan jauh kita dari kebenaran, jauh dari kebaikan. Dan, jauh dari Allah Swt. Karena hati kita telah terbungkus dengan noda dosa yang begitu pekat yaitu kesombongan. Padahal pujian datang karena mereka yang memuji kita itu tidak tahu bagaimana diri kita yang sebenarnya.

Larangan memuji berlebihan;

Terdapat perintah dari Nabi agar kita tidak memuji seseorang secara berlebihan di hadapannya.

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda:

‘Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.”[3]

Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”[4]

Boleh sesekali memuji jika ada maslahat;

Apakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata,

“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”[5]

Membaca doa ketika kita dipuji;

Agar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi sombong, hendaknya kita membaca doa berikut ini ketika dipuji.

“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.”[6]

Kita tidak bisa menghalangi orang lain untuk memuji siapapun. Namun, jikalau pujian itu mengarah pada diri kita, maka segeralah kembalikan setiap pujian kepada Allah sembari mohon perlindungan kepada-Nya supaya hati kita selamat dari perangkap pujian yang melenakan dan mencelakakan. Semoga Allah SWT. senantiasa melindungi kita.(**)

=Disadur dari berbagai sumber=