PILGUBSU, Memilih Pelayan Yang Melayani Tuannya (Masyarakat)

oleh -379 views

MEDAN — Pesta demokrasi Sumatera Utara PILGUBSU dalam waktu dekat akan dilaksanakan, pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia menjadwalkan 171 daerah akan melaksanakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak.

Salah satu daerah yang akan ikut serta dalam pilkada serentak itu adalah Sumatera Utara. Sesuai dengan ketetapan KPU Provinsi Sumatera Utara pada rapat pleno terbuka tanggal 12 Februari 2018, hanya ada dua pasangan calon dari tiga yang mendaftar dinyatakan lulus dan berhak bertarung di Pilkada Sumatera Utara, Yaitu Edy – Ijeck versuse Djarot – Sihar.

Hal ini sesuai dengan UU No.10 tahun 2016, Konstestasi lima tahunan ini sudah marak dibicarakan oleh masyarakat Sumatera Utara, baik itu pembicaraan dikalangan akademisi hingga pembicaraan warung kopi. Meski penyelenggarannya masih beberapa bulan lagi, tapi euforia dan esklasinya sudah terasa sejak sekarang.

Inilah agenda besar dalam pesta demokrasi yang akan dilaksanakan masyarakat Sumatera Utara sebagai ajang transional kepemimpinan dalam tataran gubernur. Dari sini jugalah yang akan menentukan arah pembangunan Sumut untuk 5 tahun kedepan pasca pilgubsu 2018 nanti. Apakah Sumut akan jadi lebih baik? atau justru semakin terpuruk? Tergantung siapa yang memimpin kelak.

Memang dalam bungkus dan kemasan kon­sep pencitraan diri, tentu akan banyak bahasa yang diumbar untuk meyakinkan masyarakat bahwa calon itu layak untuk dipilih, maka dengan komitmen penuh untuk membangun Sumut adalah keharusan bagi siapapun yang ingin merebut pimpinan menjadi gubernur Sumut.

Karena masyarakat menginginkan perubahan yang nyata, bukan stagnan atau malah semakin terpuruk. Karena menjadi daerah yang berkembang, bersih, maju dan modern merupakan impian setiap masyarakat terhadap daerahnya masing-masing, tidak ada masyarakat yang menginginkan daerahnya menjadi daerah yang kacau, carut-marut serta memiliki segudang permasalahan. Oleh karena itu, kerja nyata sangat dibutuhkan, bukti harus diberikan.

Gubernur Terpilih Harus Berparadigma Sebagai Pelayan yang Melayani Masyarakatnya:

“This life, if you can not see the wrong thing, you will not be able to know how to make it right”

Sebagai masyarakat yang menginginkan perubahan yang positif pada Sumut, kita berharap agar kontestasi pilgubsu tahun ini menjadi pilgubsu yang tertib, cerdas dan berintegritas, karena tidak mungkin sesuatu yang baik lahir dari cara yang tidak baik.

Siapapun yang bakal dipilih rakyat Sumut untuk menjadi gubernur nantinya di harapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik dan menghindari prilaku Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), dan yang terpenting adalah jangan sampai gubernur Sumut mendatang juga terkena kasus hukum baik itu kasus korupsi maupun karena kasus lainnya.

Pemimpin harusnya bisa memberikan teladan untuk menjaga kehormatan, bukan menjatuhkan, karena memimpin itu amanah yang harus bersinergi dengan harapan masyarakat. Momentum pilkada adalah suatu Historical Refreshment, gagasan pencerahan zaman yang mendambakan kaum muda dari berbagai daerah segera tampil untuk memimpin bangsa yang besar ini.

Kondisi Sumut yang pernah dipimpin oleh dua gubernur terpidana korupsi membuat masyarakat menginginkan calon pemimpin yang bersih dan teruji integritasnya. Mampu mengayomi seluruh lapisan etnis, suku budaya masyarakat Sumut yang heterogen, Menjadikan jabatannya sebagai simbol pelayanan masyarakat, bukan seperti Raja yang harus dipuja dan dilayani.

Semua ini tergantung kepada calon gubernur mana yang berhasil meyakinkan pemilih di Sumatera Utara ini. Pada akhirnya yang keluar sebagai pemenang adalah Rakyat Sumut. Bersama mari kita jaga Pilgub ini dari politik uang, isu SARA dan kampanye hitam maupun informasi Hoax.

Salah satu sebab rendahnya partisiaspi di Pilgubsu lalu adalah para calon tidak memiliki daya tarik politik yang tinggi sehingga gagal menyita perhatian masyarakat selama masa kampanye.

“Kalau tidak menarik, mana ada orang tertarik. Ibarat menonton siaran ulang TV, orang sudah tidak selera. Jadi penyelenggara tidak bisa tidak, harus bisa kreatif, juga diharapkan kepada para calon gubernur harus mampu melakukan langkah langkah dan ide yang menarik perhatian masyarakat untuk menciptakan energi baru dalam perjalanan kampanyenya, Sehingga partisipasi masyarakat di pilgubsu sumut meningkat pesat.” (A2/Indra)

——————————————————————–
Oleh: Khairul Anhar Harahap
Penulis adalah Alumni Fakultas Hukum Universitas Asahan (UNA), Yang saat ini aktif sebagai Penggerak Sosial Kemasyarakatan, Serta menjabat Mandataris Generasi Muda Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (GM PEKAT-IB) Prov. Sumatera Utara.