SUMUR TUA TEMPAT KORBAN REVOLUSI SOSIAL 1946 ASAHAN AKAN DIGALI KELUARGA KESULTANAN

oleh -889 views

ASAHAN — Afdeling VI PTPN III perkebunan Sei Dadap Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan yang didalamnya ada Sumur Tua tempat situs sejarah Kesultanan Asahan akan digali, Senin (29/4) mendatang.

Sumur tua di Sei Dadap Asahan yang diduga sebagai situs sejarah lokasi pemakaman massal keluarga Kesultanan Asahan korban revolusi sosial 1946.

Informasi diperoleh, sumur tua itu merupakan tempat pembuangan/kuburan massal keluarga Kesultanan Asahan yang menjadi korban Revolusi Sosial Tahun 1946.

Ketua Panitia Indra Syah, menjelaskan penggalian ini sempat tertunda karena kendala yang terjadi yakni Pemerintah Kabupaten Asahan belum memberi izin penggalian di titik lokasi Afdeling VI PTPN III kebun Sei Dadap Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan.

Sebelumnya undangan dan jadwal kegiatan mengenai penggalian dan pemakaman kembali korban Revolusi Sosial 1946 Kesultanan Asahan di Sumur Simpang Empat, Asahan, ke Mesjid Raya Sultan Achmadsyah Tanjungbalai tersebar.

Di lokasi terlihat sejumlah karyawan perkebunan PTPN III menutup akses menuju titik penggalian dengan alasan menunggu perintah pimpinan.

Untuk diketahui, kuburan diduga korban Revolusi Sosial 1946 di kawasan Afdeling VI PTPN III, akan digali Tim Lembaga Budaya Melayu Tuah Deli dan Kesultanan Asahan.

Awalnya rencana penggalian mulai dilaksanakan Kamis (29/3/2018), dan dimakamkan kembali di komplek Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah kota Tanjungbalai.

Penggalian ini merupakan inisiatif dari keturunan para korban revolusi sosial 1946.

“Guna mengungkap kebenaran dan menggali sejarah bahwa pernah terjadi pembantaian besar-besaran di Sumatera Timur atau sering disebut revolusi sosial,” kata Indra Syah.

Indra menyebutkan, proses penggalian akan berlangsung tiga hari mulai dari pembersihan lokasi, persiapan penggalian, pembacaan doa dan ritual adat penggalian, penggalian dan pemberangkatan jenazah ke Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah, di Tanjungbalai. Selanjutnya pelaksanaan fardhu kifayah (sholat jenazah), takziah keluarga dan kerabat, pemakaman kembali di komplek Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah, dan terakhir doa.

“Direncanakannya kegiatan kita lakukan tidak terlepas dari keinginan keturunan para korban yang ingin orang tua mereka dimakamkan secara syariat Islam melalui fardhu kifayah,” ujar Indra Syah.

Terpisah Tengku Alexander dan Haura Syah yang merupakan keturunan kerabat Kesultanan Asahan kepada wartawan media online membenarkan jika hari Senin 29 April 2018 akan dilakukan penggalian sumur tempat pemakaman massal korban revolusi.

Menurut Tengku Alexander yang pertama kali dilakukan adalah menyedot /mengeringkan air di dalam sumur sebelum dilakukan penggalian.(A1)

 

 

Sumber: Taslabnews